Rabu, 06 April 2011

Fenomena Pendidikan Dunia Sekolah di Indonesia

Nama Anggota:
Qurratu Aini Risa (10-067)
Chairunnisa (10-059)
Yani Nadiawati (10-125)

Fenomena 1:
Dunia pendidikan saat ini belum merdeka, masih ingat dengan peristiwa G 30 S/PKI. saat ini mulai fenomena yang sama, awalnya adalah dengan pemberlakuan kurikulum yang padat, yang tidak bisa berekspresi dengan dunia sosial. Fenomena yang dapat berpotensi degradasi, dalam dunia pendidikan. yang seharusnya bisa memberikan aktualisasi yang lebih besar untuk membangun bangsa. Kondisi ini tidak hanya terjadi di bangku perguruan tinggi, namun saat ini telah terjadi sejak bangku SD hingga SMA. Sebuah sistem pendidikan yang tidak memberikan ruang hak asasi manusia, dalam berpendidikan. Apalagi mahalnya biaya pendidikan yang dari tahun ketahun semakin naik, sehingga masyarakat miskin di desa maupun kota tidak dapat menikmatinya. Kalau kita pikirkan bahwa negara indonesia merdeka sudah 65 tahun lamanya yang bisa kita analogikan seperti manusia. Umur seperti itu sudah layak menjadi kakek dan nenek, umur 65 bisa kita sikapi untuk bisa bangkit lebih tegak melalui potensi sumber daya manusia, terutama dalam dunia pendidikan yang diharapkan akan semakin meningkat, bukannya menurun. Dengan banyaknya paradigma yang tidak mendukung bangsa indonesia, sekali lagi akan rendahnya dunia internasional memandang bangsa indonesia.

Fenomena 2:
Menghadapi perkembangan dunia komunikasi khususnya internet, seorang guru akan sangat ketinggalan jika sedikit pun beliau tidak tau mengenai apa yang namanya internet. Sementara bagi para anak didiknya, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, bisa dikatakan, informasi yang diterima pastinya lebih aktual, baru atau up to date. Dan sebaiknya ini harus diimbangi dengan SDM yang mendukung pula. Dengan internet, tanpa sekolah pun mereka dapat ilmu pengetahuan, referensi, artikel dan sebagainya, tetapi tidak terlepas juga adanya unsur negatif didalamnya. Bila hal ini tidak dicermati oleh dunia pendidikan kita, bisa saja sekolah hanya akan menjadi bangku-bangku kosong, bila ada siswa pun karena terpaksa, sebab sekolah sekarang bukannya makin murah, malah membutuhkan semakin banyak biaya. Dari sisi seorang guru mungkin teknologi informasi merupakan dunia yang sedikit sulit dicerna karena adanya keterbatasan kemampuan. dan lagi ditambah dengan rutinitas di sekolah, tentunya menjadi semakin sulit untuk berinteraksi melalui internet. Sesungguhnya pada saat ini posisi seorang guru sangat sulit, dikarenakan kurikulum yang selalu berganti-ganti, dan gaji guru yang masih kurang mencukupi kebutuhan masing-masing beliau. Maka dari itu rasanya tidak adil apabila kita menuntut beliau-beliau untuk melakukan semuanya secara proporsional. Dunia pendidikan di Indonesia sangat lemah, dan ketinggalan dibandingkan negara-negara tetangga. bahkan, lulusan SMA tidak dapat pengakuan di negara tetangga karena rendahnya mutu pendidikan yang ada di negara kita sendiri.

Fenomena 3:
Mengenai kekerasan yang ada di lingkungan pendidikan. Akhir-akhir ini sering kita dengar berita melalui media masa tentang adanya kekerasan di beberapa sekolah. Kekerasan itu dilakukan oleh oknum guru kepada siswa. Beragam pandangan pastinya muncul secara otomatis di kalangan masyarakat. Suara mayoritas masyarakat berpendapat bahwa semua tindakan yang dilakukan oleh pihak guru merupakan salah satu bentuk tindakan yang sangat tidak manusiawi dan melampaui batas kewenangan para guru sebagai seorang pendidik. Dan mungkin masih ada yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh pihak guru tersebut merupakan salah satu bentuk pendidikan untuk memberikan dan menanamkan nilai-nilai disiplin kepada siswa.

Jika dikaitkan kepada teori, teori Psikologi Pendidikan yang dikemukakan pleh E.L. Thorndike: Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya.

Senin, 14 Maret 2011

INTELEGENSI


 Pada usia berapakah tes intelegensi boleh dilakukan ?
Apakah intelegensi bisa ditingkatkan?

Pembahasan_

Intelegensi atau kecerdasan diartikan dalam berbagai dimensi oleh para ahli. Donald Stener, seorang Psikolog menyebut intelegensi sebagai suatu kemampuan untuk menerapkan pegetahuan yang sudah ada untuk memecahkan berbagai masalah. Tingkat intelegensi dapat diukur dengan kecepatan memecahkan masalah-masalah tersebut.

Intelegensi secara umum dapat juga diartikan sebagai suatu tingkat kemampuan dan kecepatan otak mengolah suatu bentuk tugas atau keterampilan tertentu. Kemampuan dan kecepatan kerja otak ini disebut juga dengan efektifitas kerja otak. Potensi intelegensi atau kecerdasan ada beberapa macam yang dapat didentifikasikan menjadi beberapa kelompok besar yaitu;

1. Intelegensi Verbal-Linguistik
Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan bahasa dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan membaca dan menulis.

2. Intelegensi Logical-Matematik
Merupakan kecerdasan dalam hal berfikir ilmiah, berhubungan dengan angka-angka dan simbol, serta kemampuan menghubungkan potongan informasi yang terpisah.

3. Intelegensi Visual Spasial
Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan seni visual seperti melukis, menggambar dan memahat. Selain itu juga kemampuan navigasi, peta, arsitek dan kemampuan membayangkan objek-objek dari sudut pandang yang berbeda.

4. Intelegensi Kinestetik Tubuh
Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan perasaan atau disebut juga dengan bahasa tubuh (body language). Kecerdasan ini berhubungan dengan berbagai keterampilan seperti menari, olah raga serta keterampilan mengendarai kendaraan.

5. Intelegensi Ritme Musikal
Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan mengenali pola irama, nada dan peta terhadap bunyi-bunyian.

6. Intelegensi Intra-Personal
Kecerdasan yang berfokus pada pengetahuan diri, berhubungan dengan refleksi, kesadaran dan kontrol emosi, intuisi dan kesadaran rohani. Orang yang mempunyai kecerdasan intra-personal tinggi biaasanya adalah para pemikir (filsuf), psikiater, penganut ilmu kebatinan dan penasehat rohani.

7. Intelegensi Interpersonal
Kecerdasan yang berhubungan dengan keterampilan dan kemampuan individu untuk bekerjasama, kemampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal. Seseorang dengan tingkat kecerdasan Intrapersonal yang tinggi biasanya mampu membaca suasana hati, perangai, motivasi dan tujuan yang ada pada orang lain. Pribadi dengan Potensi Intelegensi Interpersonal yang tinggi biasanya mempunyai rasa empati yang tinggi.

8. Intelegensi Emosional
Kecerdasan yang meliputi kekuatan emosional dan kecakapan sosial. Sekelompok kemampuan mental yang membantu seseorang mengenali dan memahami perasaan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan diri sendiri.

Setelah mengetahui beragam potensi intelegensi, kita dapat meningkatkan dan menciptakan intelegensi atau kecerdasan dengan melatih otak melalui cara-cara yang tepat. Dan menurut para ahli potensi untuk meningkatkan kecerdasan ini dapat terjadi pada usia berapa saja. Walaupun masih diakui bahwa faktor genetik juga berperan menentukan tingkat kecerdasan, tak dapat dipungkiri juga kalau stimulasi yang benar juga berpengaruh untuk menciptakan orang-orang cerdas.

Jadi berapapun usia anda, apapun profesi anda, kenali potensi kecerdasan yang anda miliki. Ingin terlihat lebih cerdas dan menjadi lebih cerdas? Lakukan stimulasi yang benar terhadap potensi intelegensi yang anda miliki.



Beberapa hubungan intelegensi, :

1. Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

2. Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya
hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

kesimpulan :
Intelegensi adalah kemampuan seseorang untuk berfikir dan belajar dari pengalaman hidupnya, semakin tinggi intelegensi seseorang maka semakin cepat pula keahliannya dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Tes intelegensi baru boleh dilakukan ketika anak sudah mulai duduk di bangku SD. Karena jika dibawah itu sulit untuk dilakukan, sebab pada usia 0-3 tahun, anak masih dalam tahap perkembangan.  

Sumber : Benjamin B. Lahey,psychology an introduction:ninth edition.
               John W. Santrock,psikologi pendidikan
               http://kentanks.blogspirit.com/archive/2006/03/04/intelegensi-dan-iq.html