Minggu, 16 September 2012

Hasil Diskusi Analisis Kelompok

Nadya Putri Delwis (10-024)
Melva Safira (10-036)
Qurratu Aini Risa (10-067)
Aprilia Windy S (10-088)


Hasil diskusi kelompok:


Berdasarkan hasil diskusi bersama, kami menyimpulkan bahwa belajar itu bukan hanya dari sekolah tapi bisa dari kehidupan sehari-hari. Dari pengalaman sehari-hari kita bisa belajar untuk merespon suatu objek atau kejadian yang kita hadapi.  Jadi, proses belajar itu sendiri bisa kita dapat kapan saja, dan dimana saja. Tergantung bagaimana kita memahami dan menyadari hal itu sebagai pembelajaran atau tidak.
Berdasarkan teori belajar awal yang dikemukakan oleh Watson, reaksi positif atau negative kita yang diasosiasikan dengan suatu objek atau kejadian, akan membentuk respon seorang individu. Yang dapat dipelajari dari sini untuk lingkup pendidikan terutama di sekolah, bahwa dalam belajar kita harus menciptakan perasaan nyaman dan senang agar kita dapat menyerap pelajaran dengan mudah. Selain itu dari teori ini juga bisa dikatakan proses belajar itu bisa kita modifikasi sesuka hati kita, kita ingin belajar mengenai suatu objek, walaupun kita tidak suka, kita bisa mengasosiasikannya dengan hal yang menyenangkan sehingga objek tersebut dapat masuk ke pengetahuan kita.
Dalam teori belajar thorndike, beliau mengemukakan istilah koneksionisme. Dimana proses belajar yang kita dapat itu sebenarnya memiliki koneksi antara stimulus yang ada dengan reaksi mandiri atau reaksi reflek kita. Lalu beliau juga mengemukakan hokum efek,latihan dan kesiapan. Proses belajar bisa didapat dari suatu kejadian. Misalnya jika dalam hukum efek, suatu kedaan yang memuaskan setelah respon akan memperkuat perilaku yang tepat untuk sebuah situasi, begitu juga sebaliknya. Disini jelas telah terjadi proses belajar yang dikarenakan suatu efek dari kejadian tertentu.
Pada intinya, belajar itu interaksi antara lingkungan, stimulus dan respon yang memberikan pengetahuan yang dapat membantu kita dalam memecahkan masalah.

Jumat, 14 September 2012

Pengalaman yang Berkaitan dengan Teori Belajar (Ivan Pavlov)


Pengalaman :
Hal ini  terjadi sejak saya mulai memasuki dunia perkuliahan dan menjadi anak kos. hal umum yang terjadi pada kebanyakan anak kos adalah pola makan yang kurang teratur. Tinggal di salah satu perumahan di lingkungan kampus, tentu identik dengan banyaknya pedagang yang berkeliaran pada malam hari, sehingga membuat anak kos seperti saya mudah mendapatkan jajanan pada malam hari. Sate juga merupakan salah satu makanan paling populer pada malam hari.
            Pada awalnya ketika melihat sate saya menjadi lapar. keesokan harinya ketika tukang sate membunyiksn ketukan beberapa kali sebagai tanda bahwa sate sedang lewat saya langsung merasa lapar dan kemudian berlari keluar untuk membelinya. hal tersebut terus terjadi secara berulang-ulang sehingga menjadi hal yang biasa bagi saya. Alhasil ketika saya mendengar suara ketukan yang dibunyikan oleh para pedagang jalanan saya langsung merasa lapar tanpa harus melihat sate nya terlebih dahulu.
Pembahasan dengan teori :
            Mengapa harus menggunakan teori nelajar Pavlov ?
Karena, teori belajar yang dikemukakan oleh Pavlov berfokus pada pada sifat refleks dan menyatakan dimana ada stimulus maka pasti aka nada respon yang dihasilkan. dan ia percaya bahwa suatu perilaku yang diinginkan itu sebenarnya bisa dibentuk sesuai dengan harapan.
Begitu pula dengan kasus yang saya alami diatas, mendengarkan suara ketukan yang dibunyikan oleh para pedagang jalanan akan membuat saya merasa lapar karena suatu proses pembelajaran yang membuat saya membentuk suatu perilaku baru.


Berikut siklus pembentukannya :
       a)      Sate                 --->               Lapar
     (UCS)                                      (UCR)
       b)      Sate     +          ketukan                --->                 Lapar
       (UCS)                 (N)                                           (UCR)
       c)      Ketukan          --->                   Lapar
        (CS)                                         (CR)
Pada kondisi yang saya alami diatas, semuanya terbentuk melalui tiga tahap :
     1.      Tahap alamiah dimana ketika melihat sate saya menjadi lapar
    2.  Ketika diberikan stimulus yang dipasangkan pada suatu hal yang sebenarnya tidak berkaitan (ketukan) secara terus menerus.
      3.    Tahap pengkondisian, ketika hanya suara ketukan yang terdengar saya akan terus merasakan lapar.
Keterangan : suara ketukan (CS = conditioned stimulus) , rasa lapar (CR = conditioned respon).
            Pauli merumuskan bahwa, suatu proses pengkondisian melatih kita untuk menimbulkan refleks dimana kita merespon stimulus baru yang sudah dilakukan berulang kali antara stimulus tersebut dan stimulus secara ilmiah, sehingga menghasilkan refleks serta kondisi yang diharapkan.



Senin, 10 September 2012

Teori-teori Belajar Awal

Anggota Kelompok: 

Ivan Pavlov----Pengkondisian Klasik
Ivan Pavlov melakukan salah satu ekperimen laboratorium pada anjing. Fokus utama Pavlov dalam risetnya ini merupakan refleks. Dimana refleks merupakan proses dimana kejadian atau stimuli dapat memicu respon. Pavlov menggunakan anjing dalam penelitiannya ini, Dan pada akhirnya ia menemukan cara untuk mengontrol perilaku munculnya air liur anjing tersebut.
Dalam penelitian ini, terdapat 3 tahap. Yang pertama adalah tahap pra-ekperimental atau tahap alamiah. Dimana Pavlov menyebutkan stimulus pada tahap alamiah ini sebagai UCS (unconditioned Stimulus) serta respon refleksnya sebagai UCR (Unconditioned Response).  Sebagai contoh, ketika terdapat makanan (UCS), anjing refleks mengeluarkan air liur (UCR).  Tahap yang kedua tahap percobaan eksperimental, dimana pada tahap ini diberikan stimulus yang dipasangkan pada suatu hal yang sebenarnya tidak berkaitan secara berulang ulang terus. Dan pada tahap ketiga, yaitu tahap pasca ekperimental atau dikondisikan. Misalnya pada tahap kedua tadi diberikan makanan dan suara garpu secara bersamaan, respon yang muncul adalah air liur keluar. Ini dilakukan terus menerus. Sehingga pada tahap ketiga, ketika hanya ada suara garpu (CS= Conditioned Stimulus), air liur anjing tetap keluar (CR=Conditioned Respon/Reflex).
Jadi inti dari ekperimen tersebut adalah melatih refleks untuk merespon stimulus baru membutuhkan pemasangan berulang kali antara stimulus tersebut dan stimulus secara alamiah memunculkan refleks. 
·       Watson----Behaviorisme.
John Watson mengidentifikasi ada tiga reaksi emosional alamiah pada bayi yaitu cinta, takut, dan marah. menurutnya, emosi individu melibatkan pengkondisian dari tiga reaksi emosi tersebut. Watson melakukan eksperimen terhadap Albert, 11 bulan untuk mengkondisikan rasa takutnya terhadap objek yang berbulu halus.
Reaksi positif dan negatif dapat dikondisikan terhadap berbagai objek atau kejadian. Reaksi parental terhadap suatu objek juga dapat mempengaruhi reaksi emosi anak terhadap objek tersebut (suka atau takut). Reaksi emosional juga dapat terjadi dengan satu kali pemasangan stimuli saja. Misalnya ketika seseorang hendak kecelakaan di simpang tiga jalan, sehingga detak jantungnya menjadi cepat, keringat dingin, dan ketika dia melewati simpang tersebut di lain waktu, dia juga mengalami reaksi psikologis yang sama kembali.
Di dalam kelas munculkan suatu yang dapat menimbulkan reaksi positif terhadap suatu tindakan. Misalnya,menempatkan karpet di sudut kelas agar dapat tercipta tempat membaca yang nyaman sehingga menimbulkan reaksi positif terhadap kegiatan membaca tersebut. Guru harus bisa dan pintar untuk menyiapkan strategi-strategi khusus agar anak terhindar dari reaksi negative yang ditimbulkan karena suatu kegiatan. Sehingga tidak ada transfer reaksi emosional yang negative dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya di kelas. 
Walaupun, teori pengkondisian ini sangat sederhana, namun kalau dilihat di dalam kenyataan memang begitulah adanya. Kadang kita tidak menyadari bahwa kita takut dengan ular karena kita pernah melihat reaksi takut orang tua ketika melihat ular. Kita tidak suka dengan sate, karena melihat teman kita muntah setelah dia memakan sate. Hal semacam itu terkadang tidak kita sadari namun ternyata itu merupakan contoh dari teori pengkondisian.
Jadi sebenarnya, teori belajar behaviorisme ini sering sekali terjadi di dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya dilihat dari hal yang kecil saja seperti ketika orang tua kita sangat menyukai bunga, dorongan positif yang ibu berikan akan memperngaruhi kita untuk juga suka dengan bunga. 
·       Edward Thorndike----- Koneksionisme
Thorndike berbeda dalam dua hal dengan pengkondisian klasik, beliau tertarik dengan proses mental dan  alih-alih meriset reaksi refleks atau tidak sukarela beliau meneliti prilaku mandiri atau sukarela. Thorndike melakukan eksperimen pada hewan dengan meletakkan makanannya di luar sangkar dan tugas hewan tersebut itu adalah membuka tutup sangkar. Eksperimen ini disebut pengkondisian eksperimental dan teorinya disebut koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara reaksi mandiri dengan stimuli particular.
Thorndike mengemukakan tiga hukum belajar:
a. hukum efek menyatakan bahwa suatu kedaan yang memuaskan setelah respon akan memperkuat perilaku yang tepat untuk sebuah situasi namun, jika keadaan kurang memuaskan setelah respon akan memperlemah perilaku tersebut untuk sebuah situasi
b.    hukum latihan menyatakan bahwa pengulangan dari pengalaman akan meningkatkan peluang respon yang benar.
c.    hukum kesiapan menyatakan bahwa pelaksanaan tindakan dalam merespon impuls yang kuat adalah memuaskan, sedangkan memaksakannya dalam kondisi yang lain adalah menjengkelkan.
Thorndike menyatakan bahwa stimulus dan respon itu memiliki koneksi satu sama lain.
·       Gestalt
Psikologi Gestalt berpendapat bahwa yang seharusnya diteliti itu perilaku molar bukan molecular. Psikologi gestalt juga berfokus pada persepsi belajar. Gestalt berpendapat bahwa individu harusnya memahami kondisi lingkungannya sebagai sebuah organisasi yang dapat mempengaruhi tindakannya. Dengan pemahaman tersebut  seorang individu mampu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Sebagai kontribusi dalam studi belajar, Gestalt mengemukakan istilah insight atau pemahaman wawasan. Insight ini didapat dari proses memahami lingkungan dan mencari tahu sehingga menemukan pemecahan suatu masalah. Insight berbeda-beda juga tiap individu tergantung pengalaman indivisu tersebut, misalnya buku yang dibaca oleh orang tersebut, lingkungan tempat dia bergaul dan faktor-faktor lainnya. Dari insight ini seseorang dapat menemukan solusi bagi masalahnya.
Gestalt menyarankan cara pembelajaran untuk memecahkan masalah:
a.    membuat tugas atau masalah dari situasi yang kongkret atau sebenarnya terjadi
b.    selama pemecahan masalah tidak boleh menggunakan prosedur yang sama atau pengulangan
c.   pembelajaran tidak boleh berasal dari masalah yang basi yang bisa diketahui pemecahannya dari hafalan.
Psikologi Gestalt ini sangat menekankan pada bahwa individu memahami aspek dari lingkungan sebagai stimuli dan merespon berdasarkan persepsi tersebut. Dan organisasi atau stimulus dari lingkungan tersebut merupakan proses, dan proses ini yang nantinya mempengaruhi persepsi. Salah satu contohnya seperti ketika kita melihat gambar 2.5, dalam gambar tersebut sebenarnya hanya ada duri duri namun kalau dilihat dalam gambar yang lengkap,akan menimbulkan persepsi kita terhadap gambar trsebut bahwa gambar tersebut sebenarnya berbentuk lingkaran yang dipenuhi duri.
·         Perbandingan antara Behaviorisme dan Teori Gestalt
Berdasarkan aplikasi pendidikan, psikologi behaviorisme mendefenisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengindentifikasi stimulus dan respon spesifik sebagai fokus riset, sedangkan Gestalt berpendapat bahwa seseorang yang merespon stimulus yang terorganisasi dan persepsi perorangan merupakan faktor penting untuk memecahkan masalah. Dalam asumsi dasar, behaviorisme memandang perilaku harus dapat diamati, belajar merupakan perubahan serta hubungan antara stimulus dgn respon harus dipelajari sedangkan pada pskilogi Gestalt memiliki asumsi bahwa individu bereaksi pada sebuah kesatuan. Kesatuan tersebut memiliki properti baru yang berbeda dari apa yang ada pada elemen tersebut. Dalam eksperimen umum yang dilakukan pula terdapat perbedaann yaitu jika pada behaviorisme melakukan trial dan error serta berfokus pada respon emosional/refleks dan pemasangan stimulus. Sedangkan pada Gestalt, mengorganisasikan kembali dimana subjek ditempatkan pada situasi yang mensyaratkan restrukturisasi bagi solusi/pemecahan masalah.

Kamis, 02 Juni 2011

TAKENGON...........

Ada yang tau kota satu ini gak?

Banyak yang bilang sih 'Kota apa itu? Ada ya?' Hmm, sungguh mengecewakan :I
Tapi memang itulah kenyataannya, dan disini saya akan mengenalkan kepada teman-teman semua sebuah kota dingin,kota kecil yang menjadi tempat saya tumbuh dan berkembang dengan orang-orang yang saya cintai :)
Kalau dilihat dari peta Indonesia dia terletak disini
Nah,disana juga terkenal dengan danaunya yang bernama Danau Laut Tawar
Bila dilihat dari atas puncak Pantan Terong akan terlihat seperti ini :
Di Takengon ini juga terkenal dengan suatu adat perlombaan yang disebut dengan Pacuan Kuda, ini biasa dilaksanakan pada setiap HUT RI dan Perayaan Idul Adha
Takengon juga sangat dikenal dengan kopinya yang khas hingga diminati oleh orang dalam maupun luar

Karena di Takengon didominasi dengan orang islam, maka juga terdapat mesjid raya yang menjadi tempat berkumpulnya para umat muslim disana

Jika kamu berkunjung dan ingin mendapatkan tempat penginapan yang langsung berhadapan dengan indahnya suasana danaunya, kamu bisa menginap di Hotel Renggali

Banyak hal lain yang bisa kita temukan dikota dingin ini selain dari tempatnya,wisatanya, bahkan kulinernya pun sangat banyak diminati oleh para wisatawan :) yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu , banyak yang mengira untuk sampai dikota ini membutuhkan waktu lama dan jalan yang sangat curam dan tajam karena melewati beberapa pegunungan. Tapi seiring perkembangan zaman, semua itu tidak lagi menjadi permasalahan bagi para pecinta traveling. Karena bisa dijangkau dalam waktu 10jam, dan dijamin ketika menginjakkan kaki disana tidak akan menyesal nantinya....
Hmm, cukup sekilas perkenalan saya mengenai kota dimana saya dibesarkan semoga informasinya bermanfaat dan saya menunggu kehadiran teman-teman sekalian disana. Terimakasih sudah melihat blog saya:)

Selasa, 17 Mei 2011

Pengaruh Teknologi Terhadap Dunia Perkuliahan


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam memasuki era globalisasi pencapaian kita sangat ditentukan oleh penguasaan kita terhadap teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan terhadap industri. Kini teknologi sangat berpengaruh pada budaya kita saat ini. Sebagian dari kita beranggapan bahwa teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. Padahal ketika kita memahami sejarah dari teknologi tersebut berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer, setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.

Pada proyek kali ini kami memilih topik : Peran Teknologi Sebagai Media Belajar Pada Mahasiswa. Dan berjudul: Pengaruh Teknologi Terhahap Dunia Perkuliahan. Seperti yang kita tahu bersama, semakin bertambahnya zaman maka kemajuan teknologi juga semakin berkembang dan kita sebagai manusia era globalisasi mau tidak mau harus bisa mengikuti perkembangannya untuk membantu kita dalam mempermudah suatu pekerjaan.

Dalam dunia pendidikan saat ini, sejak anak memasuki usia sekolah sudah diajarkan dan dikenalkan pada teknologi yang berkembang saat ini, dimana bertujuan agar anak bisa terbiasa dengan lingkungan teknologi yang baru serta memudahkan mereka dalam belajar. Karena infrasruktur yang terdapat disekolah-sekolah saat ini juga tidak banyak membantu jika anak tidak mengeksplorasinya sendiri dirumah. Terutama dalam hal pengunaan internet saat ini banyak membantu anak untuk mengenal dunia yang begitu luas, bisa mendapatkan berbagai informasi yang tidak mereka dapatkan disekolah, meskipun pada awalnya penggunaan internet ini awalnya banyak digunakan untuk hal-hal yang negatif tetapi sekarang banyak siswa yang sudah sadar akan tugas mereka dalam pengguaannya.

Meskipun demikian, peran guru dan orang tua sangat diperlukan untuk mengontrol anak dalam menggunakan teknologi tersebut agar tidak terjadi penyalahgunaan teknologi.

Landasan Teori
Pada proyek kali ini kami menggunakan dua teori yaitu, teori motivasi dan teori belajar. Teori motivasi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu, motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Dimana motivasi intrinsik adalah suatu motivasi yang datang dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan dari luar, bila diaplikasikan dengan ini proyek ini maka seseorang tersebut melakukannya memang keinginan dari dalam diri untuk mempelajari teknologi. Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan suatu motivasi yang berasal dari luar diri seseorang dimana pada tahap ini seseorang tersebut termotivasi untuk mempelajari teknologi karena lingkungan dan orang-orang sekitarnya yang mengharuskan dia untuk mempelajari hal tersebut.

Pada dasarnya setiap orang mampu melakukan sesuatu itu karena adanya motivasi yang membuat dia mau melakukan suatu tindakan tertentu, baik itu berasal dari dalam dirinya maupun dari luar.

Teori yang kedua yaitu teori belajar Piaget, teori ini bertujuan untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang mampu bernalar dan berfikir menggunakan hipotesis. Untuk memahami proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar :
  1. Skema, struktur kognitif dimana seseorang dalam hal belajar awalnya menggunakan skema untuk bisa mengingat apa yang dia pelajari awalnya mmbentuk skema.
  2. Asimilasi, merupakan suatu proses kognitif dengan asimilasi seseorang mampu mengintegrasikan bahan persepsi atau stimulus kedalam skema yang ada.
  3. Akomodasi, ini dapat diartikan sebagai penciptaan skema baru atau penguahan skema lama. Asimilasi dan akomodasi bekerja secara bersamaan saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri pada lingkungan. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian yang disebut oleh piaget dengan keseimbangan.  
Alat atau bahan yang digunakan
  1. Alat tulis, pada tahap ini kami menggunakan alat tulis untuk mencatat semua hasil dari wawancara pada si responden.
  2. Rekaman audio, pada wawancara yang kedua kami menggunakan rekaman audio dikarenakan pada wawancara kedua ini siresponden memberikan jawaban yang cukup panjang dan tidak mendukung untuk menggunakan alat tulis.
  3. Laptop, pada tahap wawancara yang terakhir ini kami menggunakan laptop untuk lebih mempermudah tahap terakhir pada wawancara.
Analisis data
Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode penelitian kualitatif. Dan teknik pengumpulan data yang kami gunakan yaitu dengan wawancara (interview).

Penjelasan Objek dan Subjek
Pada penugasan proyek mini ini, kami menggunakan beberapa objek yang berasal dari kalangan mahasiswa/i dari beberapa universitas, yaitu Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Medan Area (UMA), dan Politeknik Negeri Medan (Polmed). Wawancara dilakukan dengan mengunjungi universitas dari masing-masing objek (responden).

Beberapa responden yang kami wawancara, diantaranya :
  1. Debora Anastasha Karnina Sitepu (Fak. FISIP-USU)
  2. Ella Andira (Fak. Hukum-USU)
  3. Andi Nugraha (Fak. Teknik-Polmed)
  4. Ibrahim Thaha (Fak. Farmasi-USU)
  5. Aidil Arfand (Fak. Psikologi-UMA)
Para responden diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang kami ajukan, antara lain:
  1. Apa pendapat anda mengenai teknologi?
  2. Bagaimana penggunan teknologi pada saat perkuliahan?
  3. Apa manfaat yang dirasakan dengan penggunaan teknologi tersebut pada kegiatan perkuliahan dan juga sebagai sarana media belajar?
  4. Apa pendapat anda tentang kemajuan teknologi saat ini?
  5. Pemanfaatan teknologi seperti apa yang telah anda gunakan?
  6. Sudah berapa lama anda menggunakan teknologi?
  7. Apa dampak yang dirasakan dari teknologi? Apa bentuk positif dan negatifnya?
  8. Berapa lama dalam sehari anda menggunakan teknologi, khususnya laptop dan handphone?
  9. Jika dalam sehari saja anda tidak menggunakan teknologi (terutama handphone dan laptop), apa yang anda rasakan?
Jadwal Pelaksanaan
Time Table
Perincian Biaya :
  • Transportasi                                 Rp. 30. 000
  • Souvenir untuk responden            Rp. 25. 000
  • ATK dan fotocopy                      Rp. 5.000
Total Biaya                                           Rp. 60. 000

PELAKSANAAN
Kegiatan wawancara berlangsung mulai dari tanggal 25 s/d 28 April 2011 bertempat di beberapa universitas seperti Universitas Sumatera Utara, Politeknik Negeri Medan dan Universitas Medan Area. Pada kegiatan wawancara tersebut kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada para responden dan hasilnya tertera pada laporan penelitian.

PELAPORAN DAN EVALUASI
Laporan Penelitian :
Bedasarkan wawancara yang telah dilaksanakan, kami mendapat beberapa jawaban dari masing-masing objek tersebut. Jawaban dari wawancara tersebut kemudian kami rangkum dan uraiannya adalah sebagai berikut :
  1. Teknologi berguna membantu mempermudah pekerjaan manusia, apalagi perkembangan teknologi di era globalisasi ini sudah semakin maju. Teknologi terus-menerus berkembang seiring berkembangnya zaman. Saat ini, peradaban sudah mulai mengarah ke dunia yang serba teknologi. Teknologi sangat memengaruhi kehidupan manusia, tetapi tetap teknologi dikontrol oleh manusia itu sendiri, jangan sampai teknologi menguasai manusia. Bahkan, jika seseorang tidak mampu menguasai teknologi dapat dikatakan sangat ketinggalan, atau biasa disebut "gaptek". Di kalangan mahasiswa misalnya, penggunaan teknologi sudah sangat biasa, demi menunjang kegiatan perkuliahan. Penggunaan teknologi juga sangat signifikan, dimana memudahkan mahasiswa dalam memahami pelajaran yg dulunya disampaikan secara verbal maupun non verbal, yang sekarang dapat disampaikan melalui infocus, laptop, jaringan internet, dsb.
  2. Pemanfaatan teknologi di dunia perkuliahan sebenarnya masih sangat terbatas dan kurang dikedepankan. Fasilitas disediakan meskipun masih sederhana sekali, namun mahasiswanya tidak begitu dituntut untuk memanfaatkan teknologi tersebut, mungkin saja karena staf pengajar pun kurang menguasai teknologi. Namun pada salah satu universitas, teknologi merupakan salah satu infrastruktur dan institusi tersebut mengharuskan mahasiswanya untuk menguasai teknologi, terutama komputer, laptop, dan sebagainya. Di sebagian universitas, disediakan layanan wi-fi sehingga kita mampu menghubungkan laptop dengan jaringan internet tanpa menggunakan modem.
  3. Manfaat yang dirasakan dengan adanya penggunaan teknologi sebagai sarana belajar memberikan banyak keuntungan bagi para mahasiswa, misalnya laptop digunakan untuk mengetik tugas, sehingga tidak perlu repot-repot lagi mencatat di buku tulis, penggunaan internet digunakan untuk mencari ilmu, dimana jangkauan internet ini tidak terbatas, informasi datang dari seluruh penjuru dunia. Pengiriman tugas melalui e-mail juga sangat membantu efisiensi kerja mahasiswanya, dan banyak lagi manfaat penggunaan teknologi.
  4. Perkembangan teknologi saat ini sangat pesat, sehingga kita merasa diharuskan untuk mengikuti perkembangannya karena tuntutan zaman. Namun, di Indonesia sendiri, perkembangan teknologi masih jauh ketinggalan dengan negara-negara lain. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia yang masih berpikiran primitif, serta kurang terbuka terhadap informasi yang beredar.
  5. Teknologi yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah handphone dan laptop, namun pada saat perkuliahan paling banyak menggunakan laptop, sehingga dapat dikatakan bahwa laptop merupakan kebutuhan primer bagi para mahasiswa, apalagi jika laptop tersebut disediakan jaringan internet, maka kegiatan perkuliahan akan sangat membantu, karena tidak semua pengetahuan dapat kita peroleh dari buku teks.
  6. Sebagian besar mahasiswa sudah menggunakan teknologi ketika mereka masih duduk di bangku sekolah menengah, yang diawali dengan penggunaan handphone sebagai sarana berkomunikasi, lalu ketika masuk ke dunia perkuliahan mulai menggunakan laptop, Kemudian seiring berkembangnya zaman, handphone kini telah dilengkapi dengan aplikasi yang hampir mirip dengan laptop dan langsung bisa berkoneksi internet. Hal inilah yang mengakibatkan sebagian besar mahasiswa memilih smart phone.
  7. Dampak yang dirasakan pasti lebih banyak yang posifnya, karena memang pada dasarnya, teknologi tersebut berfungsi untuk mempermudah. Namun tidak mungkin tidak ada negatifnya, salah satunya yaitu akses internet yang tidak terbatas mengakibatkan penggunanya hanya ingin yang instan-instan saja. Selain itu, sekarang ini sudah sangat menyebar situs pornografi yang dapat diakses oleh siapa saja, bahkan dapat diakses oleh anak yang dibawah umur.
  8. Sebagian besar mahasiswa menghabiskan waktu sekitar enam jam perhari untuk berhadapan dengan laptop, semantara penggunaan handphonebagi mereka tidak terbatas, bahkan bisa seharian berkutat dengan handphone mereka.
  9. Jika dalam sehari saja tidak menggunakan teknologi, dapat dikatakan kehidupan akan menjadi hampa. Hal ini disebabkan karena manusia sudah sangat ketergantungan terhadap penggunaan teknologi tersebut. Sesungguhnya pada saat ini, teknologi dan manusia tidak dapat dipisahkan. Bahkan ada yang berpendapat "lebih baik ketingalan dompet ketimbang ketinggalan handphone".

Kesimpulan :
Jadi, berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perkembangan kemajuan teknologi saat ini merupakan suatu hal yang sangat penting dikalangan mahasiswa/i khususnya di kota Medan. Terdapat beberapa perbedaan pada objek (responden) mengenai pemanfaatan teknologi di dunia perkuliahan. Beberapa objek menggunakan handphone sebagai salah satu kebutuhan teknologi yang utama. Tetapi, beberapa objek lainnya menganggap laptop (notebook) sebagai kebutuhan utama mereka dalam pemanfaatan teknologi. Sementara ada juga objek yang menganggap bahwa laptop (notebook) dan handphone memiliki kepentingan yang sama. Dalam dunia perkuliahan, sebagian besar objek (responden) masih merasa kurang puas dengan pemanfaatan teknologi yang terdapat di masing-masing universitas, padahal penggunaan teknologi pada masa sekarang ini sangat berpengaruh demi menunjang kegiatan perkuliahan. Sebagian besar penyebab kurang maksimalnya pemanfaatan teknologi di universitas adalah karena kurangnya fasilitas yang disediakan dan kurang adanya pegenalan mengenai pembelajaran dengan menggunakan teknologi.

Evaluasi
Dari proses perencanaan hingga proses evaluasi ini, kami tidak mengalami kendala yang begitu berat. Hanya saja waktu wawancara serta pembuatan laporan penelitian kami mengalami sedikit keterlambatan dari jadwal yang sebelumnya telah ditetapkan. Selain itu, pada pembuatan poster kami juga mengalami sedikit kendala dikarenakan tidak mengetahui aplikasi apa yang cocok untuk membuat poster tersebut. Tapi, semuanya telah kami atasi dengan baik.

Testimoni :
Menurut kelompok kami, kegiatan tugas mini proyek ini dapat menjadi pembelajaran awal bagi kami dalam melakukan penelitian. Disini kami juga dapat mengembangkan kreativitas kami, misalnya pada pembuatan poster. Tugas mini proyek ini merupakan hal yang baru bagi kami, meskipun masih menggunakan penelitian yang sangat sederhana. Kami juga mengalami kesulitan dalam menyatukan ide untuk membuat desain poster, tetapi hal ini dapat kami atasi.

Chairunnisa (10-059)
Menurut saya, mini proyek ini merupakan salah satu pembelajaran awal, dimana kita dituntut untuk berlatih mengembangkan kreativitas (misalnya pada pembuatan poster) setelah kita mengadakan penelitian ataupun studi literatur. Penelitian untuk proyek kali ini mungkin bisa dikatakan sederhana karena objek yg diteliti masih sangat sedikit. Namun, kami sangat karena tugas mini proyek ini bukanlah tugas yang membosankan, meskipun lumayan kewalahan saat mendapatkan data dan menentukan desain poster bersama-sama

Qurratu Aini Risa (10-067)
Pendapat saya mengenai tugas penelitian yang berjudul ‘pengaruh teknologi terhadap dunia perkuliahan’ : ini merupakan pengalaman pertama saya dalam melakukan penelitian secara resmi dengan para mahasiswa dan menemui langsung responden di fakultas mereka masing-masing. Banyak hal yang terjadi ketika melakukan penelitian ini, mungkin terdapat banyak kesulitan karena masih awal bergerak dibidang penelitian. Setelah itu, mungkin kesulitan terasa saat membuat kesimpulan secara akurat dan pasti serta membuatnya dalam bentuk poster. Tetapi banyak pelajaran yang saya dapatkan dari penelitian ini, dimana walaupun ini masih proyek mini, tetapi tetap kita harus bertanggung jawab dan teliti terhadap hasil yang kita dapatkan, serta data yang diutarakan haruslah seakurat mungkin.

Yani Nadiawati Septina (10-125)
Menurut saya, tugas mini proyek ini menyenangkan dan juga menantang. Kita dituntut untuk dapat melakukan penelitian, baik itu dari studi literatur maupun dari hasil observasi. Kegiatan ini juga dapat menjadi langkah awal bagi saya dan juga teman-teman untuk melakukan suatu penelitian. Selain itu, manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan ini adalah kita dapat berkomunikasi dengan banyak orang karena telah menjadi objek bagi penelitian kita dan kita juga dituntut untuk bertanggung jawab serta mengumpulkan tugas ini tepat waktu serta dapat mengembangkan kreativitas yang kita miliki.

Daftar Pustaka :
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta

Poster :
 

Senin, 09 Mei 2011

ANDRAGOGI

Sejauh mana pengenalan kita terhadap Andragogi?

Andragogi, pada mulanya diartikan sebagai : seni dan ilmu yang bertugas untuk membantu dewasa belajar. Istilah tersebut dewasa ini mendefinisikan suatu alternatif terhadap pedagogi dan mengacu kepada pendidikan yang berfokuskan pada siswa untuk semua umur.

Model andragogi menegaskan bahwa lima permasalahan yang harus diperhatikan dan dibahas dalam pembelajaran formal. Mereka adalah :
1). Dibiarkan siswa mengenal sesuatu kenapa sesuatu itu penting untuk dipelajari, 
2). Peragakan pada siswa bagaimana untuk mengarahkan diri mereka sendiri melalui informasi, dan
3). Hubungakan topik tersebut dengan pengalaman siswa itu sendiri. 
4). Orang tidak akan belajar apa-apa kecuali jika mereka siap dan termotivasi untuk belajar. 
5). Dan sesuatu yang sering, perlu membantu mereka jika ditemui kendala seperti sikap dan kepercayaan tentang pembelajaran.

Dewasa ini di kalangan para ahli pendidikan orang dewasa telah berkembang baik di Eropa maupun di Amerika, suatu teori mengenai cara mengajar orang dewasa. Untuk membedakan dengan pedagogi, maka teori barn tersebut di kenal dengan nama Andragogi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu "andr" yang berarti orang dewasa dan "agogos" yang berarti memimpin atau membimbing. Dengan demikian, andragogi dirumuskan sebagai suatu ilmu dan seni dalam membantu orang dewasa belajar.


Orang Dewasa Sebagai Warga Belajar
Cara belajar orang dewasa jauh berbeda dengan cara belajar anak-anak. Olehnya itu, proses penyelenggaraan belajar bagi orang dewasa harus didekati dengan cara yang berbeda pula. Menyamakan pendekatan pendidikan anak dengan pendekatan pendidikan orang dewasa dapat mengakibatkan kegiatan pendidikan tersebut menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi orang dewasa. Kondisi yang menyakitkan tersebut tentu akan sulit untuk mengharapkan hasil belajar yang maksimal.
Menurut Knowles (1979), perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa dalam belajar didasarkan pada empat asumsi tentang orang dewasai. Asumsi-asumsi tersebut ialah: 
(1) orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda dengan anak-anak, 
(2) orang dewasa mempunyai konsep diri,
(3) orang dewasa mempunyai orientasi belajar yang berbeda dengan anak-anak, dan 
(4) orang dewasa mempunyai kesiapan untuk belajar. 
 
Ada beberapa hal yang dianggap penting dimiliki oleh para tutor dalam proses interaksi belajar yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya warga belajar, yaitu
(1) bersikap manusiawi dan tidak bereaksi secara mekanis atau memahami masalah peserta didik hanya secara intelektual; ikut merasakan apa arti manusia dan benda bagi mereka; berada dan bersatu dengan peserta didik; membiarkan diri sendiri mengalami atau menyatu dalam pengalaman para peserta didik; merenungkan makna pengalaman itu sambil menekan penilaian diri sendiri,
(2) Bersikap kewajaran: jujur, apa adanya, konsisten, terbuka; membuka diri; merespon secara tulus ikhlas,
 (3) Bersikap respek: mempunyai pandangan positif terhadap peserta; mengkomunikasikan kehangatan, perhatian, pengertian, menerima orang lain dengan penghargaan penuh; menghargai perasaan dan pengalaman mereka, dan
 (4) Membuka diri: menerima keterbukaan orang lain tanpa menilai dengan ukuran, konsep dan pengalaman diri sendiri; secara aktif mengungkapkan diri kepada orang lain dan mau mengambil resiko jika melakukan kekeliruan.
Penggunaan metode pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa berimplikasi pada penggunaan teknik pembelajaran yang dipandang cocok digunakan di dalam menumbuhkan perilaku warga belajar. Knowles mengklasifikasi teknik pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar berdasarkan tipe kegiatan belajar, yakni; sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Kegiatan belajar pada pendidikan orang dewasa masih merupakan kegiatan belajar yang paling efisien dan paling dapat diterima serta merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa belajar. Oleh karena, kegiatan belajar merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa, maka penggunaan metode belajar diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Metode belajar orang dewasa adalah cara mengorganisir peserta agar mereka melakukan kegiatan belajar, baik dalam bentuk kegiatan teori maupun praktek. 

PEDAGOGI

Apa itu pedagogi ?

Kata "pedagogi" berasal dari Bahasa Yunani kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: membimbing; secara literal berarti "membimbing anak”). Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak tuannya. Termasuk di dalamnya mengantarnya ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti alat musiknya)

Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.
Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru. Salah satu contohnya adalah aliran pemikiran Sokrates.
Banyak cara atau metode dari pedagogi , salah satunya dengan pedagogi musik yang bertujuan untuk:

•    Mengembangkan kemampuan anak dengan bakat musik
•    Bermain instrument, improvisasi dan mengkreasi musik
•    Dengan menggunakan instrument yang sederhana
•    Salah satunya menggunakan instrument Gamelan dari Indonesia

Secara literal pedagogi berati: seni dan ilmu pengetahuan tentang mendidik anak-anak dan sering digunakan sebagai sebuah sinonim untuk suatu pengajaran. Secara lebih tepatnya, pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru.
Dalam suatu model pedagogi, guru memikul tanggungjawab untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, dan bagaimana ia akan dipelajari, dan kapan ia akan dipelajari. Guru mengarahkan pembelajaran.